Materi Pelajaran Agama Hindu Kelas VII Kurikulum 2013
Selasa, 16 September 2014
Senin, 15 September 2014
Rabu, 30 Juli 2014
Ayo Kita Sembahyang
AYO KITA SEMBAHYANG
Pada umumnya, sebelum
melakukan persembahyangan didahului dengan penyucian badan dan sarana
persembahyangan. Urutanya sebagai berikut :
1.
Duduk dengan
tenang, ambil sikap yang nyaman ( Padmasana, Siddhasana, Sukhasana atau
Bajrasana) ucapkan mantra ini :
“ Om prasada
sthiti sarira siwa suci nirmala ya namah swaha”
Artinya: Ya
Tuhan, dalam wujud Hyang Siwa hambaMU telah duduk tenang, suci dan tiada noda.
2.
Jika tersedia
air bersihkan tangan dengan air, kalau tidak ada ambil bunga dan gosokkan pada
kedua tangan. Kemudian telapak tangan kanan ditengadahkan diatas tangan kiri
dan ucapkan mantra :
“Om suddha mam
svaha”
Artinya : Ya
Tuhan, bersihkanlah tangan(tangan kanan) hamba
Lalu, posisi
tangan dibalik, kini tangan kiri ditengadahkan diatas dengan kanan dan ucapakan
mantra:
“ Om ati suddha
mam svaha “
Artinya : Ya
Tuhan, lebih dibersihkan lagi tangan hamba (tangan kiri)
3.
Bersihkan mulut (
berkumur )dengan air bersih biasa sambil ucapkan mantra:
“ Om Ang waktra
parisuddha mam swaha “ atau “ Om
waktra suddha ya namah”
Artinya : Ya
Tuhan, sucikanlah mulut hamba
4.
Ambilah dupa
yang sudah dinyalakan dengan sikap tangan(Mudra) Amusti, yakni tangan
dicakupkan, kedua ibu jari menjepit pangkal dupa yang ditekan oleh telunjuk
tangan kanan, dan ucapkan mantra :
“Om Ang
dupadipastra ya namah swaha”
Artinya: Ya
Tuhan, Sucikan dan semoga menjadi saksi sembah bhakti hambaMu ini.
5.
Membersihkan
atau menyucikan bunga yang akan dipakai sarana sembahyang,dengan mengucapkan
mantra :
“Om Puspa danta ya namah “
Artinya : Ya
Tuhan, Sucikanlah bunga hamba ini.
6.
Setelah itu
lakukanlah puja Trisandhya. Jika sembahyang hanya sendiri dan belum hapal
mantra puja Trisandhya yang sebanyak enam bait. Ucapkanlah mantra yang pertama (Matram
Gayatri ) saja sebanyak minimal 3 kali. Mantram dibawah ini memakai ejaan sebenarnya.
“V” dibaca “W”. Permulaan mantram Om
diucapkan tiga kali.
Om bhur bhvah
svah
Tat savitur
varenyam
Bhargo devasya
dhimahi
Dhiyo yo nah
pracodayat
Om Narayana
evedam sarvam
yad bhutam yac
ca bhavyam
niskalanko
niranjano nirvikalpo
nirakhyatah
suddo deva eko
narayano na
dvitiyo’sti kascit
Om tvam sivah
tvam mahadevah
Isvarah paramesvarah
Brahma visnusca
rudrasca
Purusah parikirtitah
Om papo’ham
papakarmaham
Papatma papasambhavah
Trahim mam
pundarikaksa
Sabahyabhyantarah
sucih
Om ksamasva mam
mahadeva
Sarvaprani hitankara
Mam moca sarva
papebyah
Palayasva sada
siva
Om ksantavyah
kayiko dosah
Ksantavyo vaciko
mama
Ksantavyo manaso
dosah
Tat pramadat
ksamasva mam
Om santih santih
santih Om
Terjemahannya
Om Sang Hyang
Widhi, hamba menyembah kecermelangan dan kemahamuliaan Sang Hyang Widhi yang
Menguasai bumi, langit dan sorga semoga Sang Hyang Widhi menganugrahkan
kecerdasan dan semangat pada pikiran hamba.
Om Sang Hyang
Widhi sebagai Narayana penguasa segala mahluk yang telah ada dan apa yang aka
nada, bebas dari noda, bebas dari kotoran. Sang Hyang Widhi yang bersifat gaib
tidak terikat oleh perubahan, tidak terungkapkan. Sucilah Sang Hyang Narayana,
Ia yang tak terpikirkan.
Om Sang Hyang
Widhi yang disebut Siwa, Mahadewa, Iswara, Parameswara, Brahma, Wisnu, Rudra
dan Purusa.
Om Sang Hyang
Widhi, hamba ini papa, perbuatan hambapun papa, kelahiran hamba papa,
lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikalah jiwa dan raga hamba.
Om Sang Hyang
Widhi, ampunilah hamba, Sang Hyang Widhi yang maha agung anugrahkan
kesejahtraan kepada semua mahluk.
Bebaskanlah hamba
dari segala dosa dan lindungilah hamba Sang Hyang Widhi.
Om Sang Hyang
Widhi, ampunilah dosa yang dilakukan badan hamba, ampunilah dosa yang keluar
dari kata-kata hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah dari kelalaian
hamba.
Om Sang Hyang
Widhi, anugrahilah hamba kedamaian dihati, kedamaian di dunia, kedamaian selamanya.
Demikianlah mantra Tri Sandhya dan terjemahan,
sangat baik umat mengertai makna mantra-mantra dalam Tri Sandhya yang diucapkan
sehingga dengan adanya pemahaman terhadap makna dan arti puja Tri Sandhya
sehingga menanmbah kekhusukan dan kemantapan kita dalam melakukan Tri Sandhya.
Setelah selesai melakukan Puja Tri Sandhya
dilanjutkan dengan Kramaning Sembah (Panca Sembah ). Adapun urutan dari
Kramaning Sembah yaitu :
1.
Sembah puyung
(Dengan tangan kosong). Cakupkan tangan letakkan di dahi atau di ubun-ubun
sambil ucapkan Mantra :
Sarana : Tanpa sarana
“Om atma
tattvatma suddha mam svaha”
Artinya : Om Hyang
Widhi, Sucikanlah diri hamba
2.
Menyembah Sang
Hyang Widhi sebagai Sang Hyang Raditya. Cakupkan tangan letakkan di dahi atau
ubun-ubun. Dengan mantra :
Sarana : Bunga Putih
“Om Adityasya
param jyoti
Rakta teja
namostute
Sveta pangkaja
madyastha
Baskaraya namo
stute”
Artinya : Om Hyang
widhi sinar Hyang Surya yang maha hebat, engkau bersinar merah, hamba memujaMu,
Engkau yang berstana di tengah-tengah teratai putih, hormat kepada-Mu pencipta
sinar berkilauan.
3.
Sembah bhakti
kepada Ida Sang Hyang Widhi sebagai Ista Dewata. Cakupkan tangan letakkan di
dahi atau ubun-ubun. Dengan mantra :
Sarana : Bunga
warna-warni atau Kwangen.
“ Om Nama deva
adhisthanaya
Sarva vyapi vai
sivaya
Padmasana ekapratisthaya
Ardhanaresvaryai
namo namah”
Artinya : Om Sang Hyang
Widhi, yang berstana ditempat yang paling luhur, kepada Hyang Widhi yang berada
dimana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk dari bunga teratai,
kepada Ardhanareswari, hamba memuja Mu.
4.
Menyembah kepada
Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk memohon Anugrah. Dengan Mantra :
Sarana : Bunga
warna-warni atau Kwangen
“Om Anugraha
manohara
Deva dattanugrahaka
Arcanam sarva
pujanam
Namah sarvanugrahaka
Om Deva devi
mahasiddhi
Yadnanga nirmalatmaka
Laksmi siddhisca
diirghayuh
Nirvighna sukha
vrddisca”
Artinya : Om Hyang
widhi, engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata,
pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. Hyang
Widhi sebagai dewa dewi yang Mahasiddhi terujud dari yadnya suci, kebahagiaan,
kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan
jasmani juga rohani.
5.
Sembahyang
terakhir yaitu sembah puyung seperti sembah yang pertama. Dengan mantra :
Sarana : Tanpa Sarana
“Om Deva
suksma paramacintya ya namah svaha”
Artinya : Om Hyang
Widhi, yang tak terpikirkan dan maha gaip.
Kemudian dilanjutkan
mohon tirtha dan bija, dan mengakhiri
sembahnyang, memohon tirtha dab bija. Diakhiri dengan Paramasanti. Dengan Mantra
:
“ Om Santih,
Santih, Santih Om”
Demikianlah
Mantra-mantra dalam melaksanakan sembahyang Puja Tri Sandhya dan Keramaning
Sembah.
BERSEMBAHYANG SUPAYA SEHAT
BERSEBAHYANG SUPAYA SEHAT
Bersembahyang bisa untuk memelihara kesehatan. Selain
pikiran menjadi jernih, sikap-sikap bersembahyang membuat otot dan pernapasan
jadi bagus.
Persembahyangan
dilakukan dengan beberapa sikap yang disebut asana. Ada beberapa bentuk asana. Ada yang dilakukan
dengan duduk, ada dengan berdiri, misalnya didepan kelas atau ruangan rapat/
pertemuan ketika melangsungkan Puja Tri Sandhya.
Sikap
duduk ada beberapa bentuk misalnya : Padmasana. Yaitu sikap sembahyang dengan
duduk seperti teratai. Cara ini dilakukan dengan menempatkan kaki kanan diatas
paha kiri dan kaki kiri diatas paha kanan, tulang punggung sampai kepala
menjadi satu garis tegak, tubuh dirilekskan.
Dalam
keadaan pikirn tenang barulah sembahyang dilakukan. Kalau sikap ini secara
tekun dilakukan tiap-tiap hari, maka persembahyangan akan membawa manfaat
kesehatan jasmani dan rohani yang didapatkan dari sikap Padmasana ini. Yaitu
menjaga tulang punggung agar kuat dan tegak, sehingga canalis controlis yaitu
saluran kecil ditengah sumsum tidak terhalang naiknya dari Muladhara Cakra ke
Sahassara Cakra(Ubun-ubun/Siwadwara).
Sikap
Padmasana juga menjaga keseimbangan jasmani dan rohani, sehingga jasmani dan rohani dapat
dikendalikan. Juga membantu menyembuhkan penyakit rematik di kaki, paha dan
punggung. Dan memperlancar peredaran darah ke seluruh tubuh. Sikap Padmasana
ini disamping baik untuk sembahyang sehari-hari, maupun sembahyang di
tempat-tempat pemujaan, juga sangat baik digunakan untuk melakukan meditasi,
khusus Japa dan Dhyana. Sikap Padmasana ini disebut pula Komalasana.
Disamping
sikap Padmasana juga ada sikap sembahyang yang disebut Siddhasana, Sukhasana,
Vajrasana (Bajrasana). Sikap Siddhasana adalah sikap duduk biasa,kaki kiri
dibawah paha dan betis kanan. Dan kaki kanan diantara paha betis kiri.
Siddhasana berasal dari kata “Siddha” artinya Sempurna. Siddhasana adalah sikap
duduk untuk mencapai kesempurnaan. Sukhasana adalah sikap sembahyang dengan
duduk biasa, dimana kaki berada didepan kaki kiri. Sikap Sukhasana inilah yang
pada umumnya dapat dilakukan umat kebanyakan, karena sikap inilah paling, mudah
dilakukan bertahan lama. Sukhasana berasal dari kata Sukha artinya
menyenangkan, sehingga Sukhasana adalah sikap duduk yang menyenangkan.
Siddhasana dan Sukhasana mempunyai faedah yang sama ditinjau dari kesehatan
jasmani. Sikap Vajrasana/Bajrasana, dilakukan dengan duduk bersimpuh, paha
luruskedepan, betis dibawah paha, kedua telapak kaki mengenai pantat, tulang
punggung tegak lurus dengan kepala dan badan santai/rilek.
Sikap
Bajrasana biasanya dilakukan oleh kaum wanita. Vajrasana berasal dari kata
Vajra yang artinya Petir dan juga ketetapan hati. Sikap vajrasana berarti sikap
duduk dengan ketetapan hati, untuk bersembahyang.
Secara
kesehatan sikap Vajrasana ini kalau dilakukan dengan tekun setiap hari dapat
menguatkan tulang punggung, pencernaan dalam perut dapat bekerja dengan
sempurna, menguatkan otot kaki, paha, membantu menyembuhkan sakit dilutut, kaki
jari, paha atas, menghilangkan kembung diperut karena kebanyakan angin dan
mengaktifkan urat-urat yang halus.
Dalam
melakukan persembahnyangan, setelah menentukan sikap sembahyang, baik yang
duduk maupun berdiri, terus dilanjutkan dengan melakukan Pranayama yaitu pengaturan napas. Mengatur napas dengan menarik
napas, menahan napas dan menghembuskan/mengeluarkan napas, dengan perbandingan
1 : 4 : 2. Ini minimal dilakukan dalam tiga putaran. Dari segi arti, Prana aadalah tenaga hidup, sedangkan Yama artinya mengedalikan. Menarik,
menahan dan mengeluarkan napas dalam Pranayama
ini dilakukan melalui hidung. Manfaat secara kesehatan yang didapat melalui Pranayama ini sangat banyak, diantara
lain: menambah zat asam pada paru-paru, menenangkan pikiran untuk dipusatkan
pada objek sembahyang, mengurangi lemat dalam tubuh, memberikan tenaga baru
pada seluruh tubuh agar organ-organ tubuh dapat berfungsi sesuai dengan
fungsinya masing-masing. Membersihkan urat-urat halus, memperlancar pernapasan,
membantu penyembuhan sesak napas, TBC, membangkitkan kekuatan diri pribadi,
membersihkan diri secara total dan membantu proses penyembuhan berbagai
penyakit dengan jalan mengalirkan “Prana”
kebagian-bagian yang sakit.
Demikianlah
manfaat sikap asana dan pranayama dalam sembahyang. Manfaat kesehatan ini baru
dapat dirasakan apabila dilakukan dengan penuh ketekunan dan berkesinambungan.
Drs, Ketut Wiana, Doa Sehari-hari Menurut Hindu, 1994
Jumat, 01 November 2013
Hari Raya Hindu
Hari
Raya Hindu (Hindu holy festivals) disebut sebagai Utsava dalam bahasa
Sansekerta. Selama hari raya itu, masyarakat mengenyampingkan masalah-masalah
keduniawian dan bergembira bersama, menghormti Tuhan dalam berbagai bentuknya
dan perobahan musim. Ada banyak hari raya Hindu dan masing-masing berbeda dari
satu tempat dengan tempat lain. Holi adalah hari raya Hindu di India Utara,
tapi tidak dirayakan di India selatan.
Deepavali
atau Diwali, festival cahaya, adalah hari raya Hindu yang sangat penting
dirayakan selama bulan Kartika (Oktober/November). Ia adalah salah satu hari
raya yang dirayakan di seluruh dunia, menjadi hari raya nasional di India, Fiji
dan Trininad. Deepa artinya "cahaya (light) dan Avali artinya
"jajaran/barisan" (row), jadi Deepavali artinya "jajaran
cahaya."
Ada
beberapa kisah mythologis di belakang hari raya ini. Deepavali adalah perayaan
kemenangan dan kembalinya Rama dan isterinya Sita ke ke kerajaan Ayodhya
setelah menghancurkan Rahwana, raja raksasa dari Sri Langka. Selama perayaan
ini, orang-orang menyalakan barisan lampu-lampu kecil atau lampu minyak di
balkon dan jendela untuk menyambut kedatangan Rama dan Sita pulang ke rumah.
Kisah
mythologi yang lain di balik Deepavali adalah perayaan kemenangan Krishna atas
raksasa dari neraka, Narakasura. Kisah mengenai penghancuran raksasa ini
ditulis dalam Sabha Parva dari Mahabharata. Menurut legenda, Narakasura, putra
bumi, adalah raja Pragjyotishapura. Dengan anugrah yang ia terima dari Brahma
dan Siwa, ia menaklukan tidak saja dunia ini tetapi juga surga. Akhirnya para
dewa dan orang suci meminta bantuan Krishna untuk membunuh Narakasura. Dalam
pertempuran yang hebat, Krishna, dibantu oleh permaisurinya, Sathyabama,
sebagai sais kereta, membunuh Narakasura. Setelah kematian Narakasura, ibunya
memohon kepada Krishna agar kejatuhan anaknya dihidupkan dalam kenangan semua
orang di dunia sebagai satu hari perayaan dari kebaikan. Jadi Deepavali adalah
perayaan atas pembebasan bumi dan surga dari genggaman Narakasura.
Perayaan
Holi juga memiliki latar gelakang mythologi. Konon suatu kali dunia ini dikuasi
oleh seorang raja-raksasa, Hiranyakashipu. Ia memproklamasikan dirinya sendiri
sebagai Tuhan dan memaksa setiap orang untuk menyembahnya, tapi putranya,
Prahlada, tetap bersikeras menyembah Wishnu. Atas perintah Hiranyakasipu,
seorang raksasa wanita bernama Holika, yang percaya dirinya imun terhadap api,
membawa Prahlada ke dalam api. Konon karena anugrah Wishnu, Prahlada keluar
dengan selamat dari api tanpa terbakar sedikitpun, sementara Holika hangus
terbakar jadi abu. Hari raya Holi merayakan peristiwa ini.
Hari
raya Holi dirayakan selama bulan Februari/Maret, adalah salah satu hari raya
terpenting di India Utara. Satu api unggun juga dinyalakan malam sebelum hari
raya Holi (mirip ngrupuk di Bali, NPP). Sehari setelah Holi, orang-orang saling
melempar tepung daun-daunan dan air yang berwarna satu sama lain. Sama seperti
hari raya Deepavali, selama perayaan Holi orang-orang saling memberi hadiah.
Navaratri
dikenal sebagai perayaan malam (Festival of Nights), dilaksanakan pada hari
kesembilan bulan Kanya (September/Oktober). Persembahyangan dilakukan selama 9
hari. Tigahari pertama memuja Durga (Dewi Keberanian), tiga hari kedua untuk
memuja Lakshmi (Dewi Kemakmuran), tiga hari terakhir untuk memuja Saraswathi
(Dewi Ilmu Pengetahuan). Di India Utara selama malam-malam ini dipertunjukkan
tarian Garbha dan di India Selatan, rumah-rumah dihias dan boneka-boneka yang
diberi nama Bomma Kolam dipertunjukkan. Hari kesepuluh disebut sebagai Vijaya
Dasami, Dasara atau Dussera. (Dari lamanya perayaan Navaratri sama dengan
Galungan di Indonesia , NPP).
Masih
ada beberapa hari raya lain di India. Sivaratri (Februari/Maret) adalah hari
raya untuk memuja Siva. Hari raya ini dirayakan di seluruh India. Krishna
Janmashtami (Agustus/September) adalah perayaan hari lahir Krishna. Vasant
Panchami (Januari/Februari) adalah hari raya untuk memuja Dewi Saraswathi (sama
dengan hari Saraswati di Indonesia, NPP). Guru Purnima (Juni/Juli) adalah
perayaan untuk menghormati para Guru atau para ahli di bidang kerohanian.
Source :
webmaster
Langganan:
Postingan (Atom)



